Site Logo

institut kewarganegaraan indonesia

kita satu, kita sama, kita setara, satu tujuan: indonesia

WAWANCARA DENGAN HARRY TJAN SILALAHI (6-HABIS)

Dikirim pada 20 Sep 2013 292 dilihat

WAWANCARA DENGAN HARRY TJAN SILALAHI (6-HABIS)

 

MASYARAKAT TIONGHOA HARUS MERASA JADI BAGIAN BANGSA INDONESIA

 

Bagaimana harapan atau cita-cita Bapak tentang masyarakat Tionghoa di tengah-tengah kemajemukan bangsa kita?

Masyarakat Tionghoa harus betul-betul merasa menjadi bagian bangsa Indonesia.

 

Sikap ideal apa yang harus diambil masyarakat Indonesia terhadap saudara-saudaranya yang warga Tionghoa?

Sebaliknya yang “pribumi”, yang mayoritas harus betul-betul membuka diri, memberi tempat kepada orang Tionghoa. Hal ini penting agar saudara-saudara kita warga Tionghoa tidak merasa hanya dimanfaatkan saja.

 

Dengan begitu warga Tionghoa akan aktif dalam kehidupan nasional dan nyaman hidup di Indonesia?

Betul sekali. Mereka akan turut berpartisipasi kalau kondisinya kondusif. Mereka akan menganggap Indonesia adalah tanah airnya yang harus dicintai. Karena ada penerimaan, mereka akan kerasan. Ini teori ketahanan nasional.

 

Bagaimana pandangan Bapak terhadap para pejabat dan birokrasi kita?

Sayangnya sebagian pejabat itu koruptif, mencari duit. Mereka dalam memberikan service kepada warga masyarakat tidak sebagai pengabdian, tetapi sebagai panggautan, mencari duit. Dengan demikian semboyannya UUD, ujung-ujungnya duit.

 

Mungkin hal buruk itu juga dikarenakan gaji mereka kurang?

Mungkin juga. Barangkali taraf kebutuhan aparat belum dipenuhi oleh negara. Gaji masih kurang, dan lain-lain. Di lain pihak pembinaan mental (untuk pejabat dan birokrasi) yang masih kurang, karena kalau mendapat kurang akan tetap merasa kurang.

 

Apa ciri negatif yang masih melekat pada sebagian birokrasi kita?

Kalau bisa dipersulit, mengapa digampangkan. Dengan mempersulit, maka akan ada ongkos ekstra (supaya menjadi mudah dan lancar).

 

Bagaimana menghilangkan sisi buruk tersebut?

Selama kita manusia, hal tersebut tidak bisa dihilangkan 100%, tapi kita harus dibina untuk memperbaiki diri. (Habis) *Rofiqul Umam Ahmad