Kita Satu, Kita Sama, Kita Setara, Satu Tujuan: Indonesia

Migrasi dan Keuntungan Pindah Kewarganegaraan

Berdasarkan hasil studi yang dilansir oleh Gallup dan diumumkan pada tanggal 2 November 2009, ternyata sebanyak 700 juta orang di seluruh dunia berangan-angan untuk pindah bermukim ke negara lain.

Rumput tetangga selalu terlihat lebih hijau atau mungkin juga memang kenyataannya rumput tetanggga ternyata benar-benar jauh lebih hijau. http://www.gallup.com/poll/124028/700-Million-Worldwide-Desire-Migrate-P...

Dari ilustrasi di atas terlihat bahwa orang-orang yang bermukim di sub-Sahara Afrika, Timur Tengah dan Afrika Utara merupakan persentasi jumlah orang terbanyak yang ingin meninggalkan negara asalnya. Sebanyak 38% (persentasi tertinggi) penduduk sub-Sahara Afrika jumlah totalnya diperkirakan sekitar 165 juta orang, sementara sebanyak 10% (persentasi terendah) Asia jumlah totalnya diperkirakan sekitar 250 juta orang.

Dari 700 juta orang tersebut, 165 juta orang ingin pindah ke AS, masing-masing 45 juta orang ingin pindah ke Kanada, Inggris atau Perancis, 35 juta orang ingin pindah ke Spanyol, 30 juta orang ingin pindah ke Saudi Arabia dan masing-masing 25 juta orang ingin pindah ke Jerman atau Australia.

PNMI (Potential Net Migration Index) adalah persentasi perkiraan jumlah orang dewasa yang ingin pindah masuk secara permanen dikurangi dengan perkiraan jumlah orang dewasa yang ingin pindah keluar dibagi dengan  jumlah penduduk total negara.

Berikut adalah tabel peringkat negara-negara dengan angka tertinggi PNMI.
Gallup Potential Net Migration Index
Top and Bottom Five Countries
Highest Positive Values                                            Highest Negative Values

Singapore (+260%)                                                             Congo (-60%)

Saudi Arabia (+180%)                                                        Zimbabwe (-55%)

New Zealand (+175%)                                                        Sierra Leone (-55%)

Canada (+170%)                                                                   Haiti (-50%)

Australia ( +140%)                                                               El Salvador (-50%)

 

Statistik lebih lengkapnya bisa dilihat pada URL berikut di mana jika saja angan-angan mereka untuk berpindah negara bisa terlaksana, maka penduduk Indonesia akan berkurang sebanyak 5%.  http://www.gallup.com/poll/124193/Potential-Net-Migration-Change-Develop...
AS walaupun menjadi negara tujuan utama banyak orang untuk pindah, tapi tidak termasuk kedalam peringkat teratas dalam tabel tersebut dikarenakan populasinya yang sudah cukup besar dengan PNMI sebesar +60%.

Jika dilihat dari tabel di atas, maka Haiti dan El Salvador akan kehilangan setengah populasinya yang kemungkinan besar semuanya ingin pindah ke AS. Sementara angka PNMI untuk RRC dan India masing-masing sebesar  -5% dengan populasi terbesar dunia hingga bisa dibayangkan banyaknya orang yang berangan-angan ingin keluar dari kedua negara tersebut. Besarnya angka menjadi 20% dikalangan rakyat RRC yang telah mengenyam tingkat pendidikan tinggi (college-educated) dengan 2/3 dari mahasiswa RRC yang kuliah di LN sejak tahun 1980-an tidak kembali pulang.

Faktor-faktor penyebab orang pindah

Berdasarkan hasil studi Gallup terlihat bahwa orang-orang yang punya kaitan dengan keluarga ataupun teman-teman punya kecenderungan untuk pindah ke negara lain dan ini berlaku di seluruh dunia tanpa terpengaruh oleh tinggi-rendahnya tingkat pengembangan manusia (human development) di negara asal.

Faktor-faktor seperti usia dan pendidikan juga muncul sebagai penggerak utama bagi keinginan untuk pindah dengan orang-orang yang kurang komitmen ataupun punya mobilitas besar akan merasa lebih mudah untuk pindah. Secara umum dengan tidak tergantung pada tingkat pengembangan manusia, orang-orang yang berusia dibawah 35 tahun dan sekurangnya punya pendidikan lanjutan atas akan lebih punya keinginan besar untuk pindah dibandingkan dengan orang-orang yang lebih tua dan berpendidikan kurang.

Jika tingkat pengembangan manusia diperhitungkan, maka terlihat adanya kecenderungan lebih tinggi untuk pindah pada negara-negara yang berada pada tingkat pengembangan manusia yang menengah hingga rendah.

Ringkasnya, faktor-faktor yang menjadi penyebab seseorang  ingin pindah bervariasi antara negara, wilayah dan tingkat pengembangan manusia, tapi punya kesamaan dalam bentuk adanya kesempatan. Entah itu kesempatan untuk berkumpul dengan anggota-anggota keluarga yang sudah berada di luar negeri, kesempatan untuk memulai bisnis baru, merasa bebas untuk bisa mengekpresikan pandangan tanpa adanya rasa takut ataupun kesempatan untuk bisa hidup di mana anak-anak mereka diperlakukan dengan layak.

Keuntungannya

Orang pindah bermukim ke negara baru tentunya mengharapkan semua yang lebih baik dari negara asalnya. Bisa dilihat dari tuntutan para pengungsi asal Srilanka yang minta untuk ditempatkan hanya pada negara-negara tertentu saja seperti Australia, Selandia Baru, Kanada atau Norwegia. Ternyata keempat negara yang disebut-sebut oleh para manusia perahu tersebut berada dalam peringkat 20 negara yang paling nyaman dihuni dari 182 negara di dunia di mana statistik data tahun 2007 dipergunakan (sebelum krisis ekonomi dunia dimulai). Berdasarkan laporan tersebut Norwegia menduduki tempat teratas disusul oleh Australia pada tempat kedua dengan Kanada berada pada peringkat keempat dan Selandia Baru menduduki peringkat keduapuluh.

http://www.dailymail.co.uk/news/worldnews/article-1218276/Norway-crowned...

Setelah bermukim beberapa lama di tempat yang baru ada orang yang dengan cepatnya membuang kewarganegaraan yang lama seperti halnya yang dilakukan oleh bekas kolega saya yang asal India. Dengan menjadi WN Australia dia langsung bisa mensponsori adiknya agar bisa menetap di Australia. Sebaliknya bagi kebanyakan para pemegang paspor RI akan berusaha untuk tetap mempertahankan paspor tersebut, entah secara legal maupun ilegal. Secara legal dalam hal ini orang yang bersangkutan masih mempertahankan paspor RI dan hanya memegang visa penduduk tetap saja. Secara ilegal adalah dengan cara tetap mempertahankan paspor RI walau yang bersangkutan sudah menjadi WNA. Ini bisa dilakukan karena perwakilan RI di luar negeri tidak bisa mengetahui siapa-siapa saja yang sudah melepaskan kewarganegeraan RI-nya dengan RI sampai sekarang tidak memperbolehkan adanya kewarganegaraan ganda.

Saat saya berada di Auckland beberapa waktu yang lalu saya melihat adanya formulir pernyataan bagi orang yang akan memperpanjang paspor Indonesia di Selandia Baru di mana yang bersangkutan harus menandatangani pernyataaan menolak adanya kewarganegaraan ganda bagi orang-orang yang sudah bermukim di Selandia Baru selama lebih dari 3 tahun. Ibu saya memperpanjang paspor RI pada tahun 2009 dan beliau tidak perlu menandatangani pernyataan semacam ini di Sydney di mana visa penduduk tetapnya didapat sejak Oktober 2003. Jadi rupanya tiap perwakilan RI di LN punya aturan sendiri-sendiri.

Apakah ada perbedaan antara paspor RI yang dikeluarkan di Indonesia dan di LN? Saya tadinya menganggap tidak ada perbedaannya, tetapi perbedaan itu ternyata ada. Dalam perjalanan  terakhir ke Indonesia ditahun 2008, saya alpa karena ternyata visa penduduk tetap Australia yang tercantum pada paspor ibu saya  habis masa berlakunya dibulan Oktober tersebut. Saya baru menyadarinya saat dalam perjalanan kembali ke Sydney dari Surabaya lewat Singapura. Berkat usaha petugas wanita loket Silk Air yang memintakan izin pada fihak otoritas Australia, maka akhirnya ibu saya bisa diperkenankan naik pesawat. Terima kasih sebesar-besarnya untuk sang mbak petugas loket Silk Air di Surabaya yang telah membantu kami. Izin keberangkatan bisa diberikan dikarenakan paspor ibu saya dikeluarkan di Sydney. Pertanyaan fihak otoritas Australia adalah di mana paspor tersebut dikeluarkan? Saat dijawab Sydney, maka izin langsung diberikan.

Kembali mengenai untungnya jadi WNA. Dalam situs resmi Pemerintah Australia disebutkan bahwa menjadi warganegara merupakan suatu komitmen pada Australia dan rakyatnya. URL http://www.citizenship.gov.au/should_become/# memperlihatkan segala hak dan kewajiban warganegara Australia. Dari daftar tersebut yang paling penting menurut saya adalah bisanya meminta bantuan pada perwakilan Australia saat berada di luar negeri.

Sebagai contoh saat terjadi perang di Libanon pada tahun 2006 ada sekitar 6000 orang berdarah Libanon pemegang paspor Australia yang telah dievakuasi dengan menghabiskan dana sebanyak A$ 25 juta. Saat itu mereka memohon dengan sangat agar orangtua dan sanak keluarga mereka yang tidak memegang paspor Australia untuk bisa ikut dievakuasi bersama mereka di mana tentunya permohonan ini tidak dikabulkan karena kewajiban Pemerintah Australia hanyalah menyelamatkan warganegaranya saja. Dari segi penyelamatan warganegaranya, mungkin apa yang telah dilakukan oleh Bill Clinton pada kedua jurnalis AS berdarah Asia, Euna Lee dan Laura Ling, merupakan suatu contoh teramat istimewa.

Keuntungan penting lainnya adalah bisa melamar untuk mendapatkan pekerjaan sebagai pegawai negeri dan militer. Konon menjadi pegawai negeri di Australia ada demikian banyak fasilitasnya disamping pendapatannya yang lumayan. Pekerjaan pada perusahaan tertentu yang umumnya ada kaitan dengan militer hanya menerima para pegawai yang WN Australia saja.

Ada keuntungan-keuntungan lain yang tidak tertulis dalam situ tersebut dengan menjadi WN Australia dibandingkan dengan hanya memegang visa penduduk tetap saja. Beberapa contohnya seperti berikut.

  • Setelah memegang paspor Australia, teman saya yang asal India meminta bantuan anggota Parlemen wilayahnya agar istrinya yang baru saja dinikahi di India bisa cepat dapat visa hingga bisa sesegera mungkin datang menyusul ke Sydney. Seperti diketahui perjodohan orang-orang India selalu lewat mak-comblang dan sang istri sudah dipilih agar memiliki latar pendidikan yang menguntungkan, dalam hal ini bidang IT. Dalam waktu kurang dari tiga bulan saja istrinya sudah bisa mendapatkan visa yang diperlukan.
  • Tidak tertulis, tapi saya merasa saat mensponsori pasangan hidup ataupun sanak keluarga, prioritas lebih diberikan pada WN Australia ketimbang hanya pemegang visa penduduk tetap saja.
  • Uang pinjaman kuliah (HECS) sekarang hanya bisa diberikan bagi WN Australia saja dikarenakan banyaknya para pemegang visa penduduk tetap yang mengemplang hutang dan kabur pulang ke negara asal masing-masing.
  • Tidak bisa dideportasi ke negara asal setelah terbukti melakukan tindakan kriminil (dalam batas-batas tertentu).

Adalah anggapan yang salah bahwa kalau seseorang sudah menjadi WN Australia  maka dia secara otomatis akan lebih mudah untuk mendapat pekerjaan di Australia. Terkecuali untuk menjadi pegawai negeri atau bidang-bidang industri tertentu yang mengharuskan penerimaan pegawai yang WN Australia, umumnya perebutan untuk memperoleh pekerjaan yang permanen harus selalu melalui seleksi ketat berdasarkan ketrampilan dan pengalaman yang dibutuhkan tanpa peduli apakah orang tersebut WN Australia ataukah hanya pemegang visa penduduk tetap saja.

Saat saya berada di Auckland saya mendengar cerita ada begitu banyak orang-orang asal Indonesia yang terkena PHK. Akibatnya orang-orang yang sudah memegang paspor Selandia Baru pada kabur ke Australia untuk mendapatkan pekerjaan. Ini bisa dimungkinkan karena adanya perlakuan khusus yang diberikan bagi para warganegara Selandia Baru oleh Pemerintah Australia dan perlakuan khusus ini tidak berlaku bagi para pemegang visa penduduk tetap Selandia Baru.

http://www.immi.gov.au/allforms/travel-documents/new-zealand.htm

Jadi dalam hal ini benar juga tuduhan Pauline Hanson dulu bahwa Selandia Baru merupakan pintu belakangnya Australia. Pauline Hanson sendiri sekarang sudah pindah ke Inggris dan kemungkinan besar akan mendapat posisi dalam BNP (British National Party) yang merupakan kelompok sayap kanan dan punya kebijakan anti imigran di Britania Raya (UK).

Sumber: http://www.gallup.com/tag/Migration.aspx, dikutip dari http://kolomkita. detik.com/baca/artikel/2/1484/_migrasi_dan_keuntungan_pindah_kewarganegaraan, Selasa, 5 Maret 2013.

Diterbitkan pada website Institut Kewarganegaraan Indonesia oleh Eddy Setiawan pada tanggal 5 Maret 2013

Add new comment

Plain text

  • Allowed HTML tags: <a> <em> <strong> <cite> <blockquote> <code> <ul> <ol> <li> <dl> <dt> <dd>
  • Web page addresses and e-mail addresses turn into links automatically.
  • Lines and paragraphs break automatically.
CAPTCHA
This question is for testing whether or not you are a human visitor and to prevent automated spam submissions.
3 + 10 =
Solve this simple math problem and enter the result. E.g. for 1+3, enter 4.

Berita

Tim IKI berkunjung ke LPPM UNISMA
IKI Jajaki Kerjasama dengan UNISMA dan UIN
Bantuan Sosial untuk Masyarakat Rentan
Bansos IKI 2021 untuk Masyarakat Kecil, Lemah, Miskin, Tertindas, dan Difabel
Pemulung di Rawalumbu mendapat Paket Bantuan Jelang Ramadhan
Solidaritas Sosial IKI Jelang Ramadhan
DIskusi Rutin Kewarganegaraan
Tadarus Kewarganegaraan 2021
Duta Perubahan Perilaku Satgas Covid-19
Duta Perubahan Perilaku Satgas Covid-19

Copyright © 2016.Institut Kewarganegaraan Indonesia, Wisma 46, Lantai 14, Ruang 14-16, Kota BNI, Jl Jenderal Sudirman Kav. 1, Jakarta Pusat (10220).