Kita Satu, Kita Sama, Kita Setara, Satu Tujuan: Indonesia

Kasus: 12 Relawan Indonesia Dapat Kewarganegaraan Palestina

Duabelas relawan Indonesia yang bergabung dalam misi kemanusiaan "Freedom Flotilla" mendapatkan kewarganegaraan Palestina sebagai bentuk apresiasi negara itu terhadap relawan yang mencoba menerobos blokade Gaza oleh Israel.

"Pemerintah (Palestina) mengapresiasi upaya yang dilakukan oleh para pahlawan kemanusiaan untuk mengekspose kekejaman Israel," kata Dubes Palestina untuk Indonesia Fariz Mehdawi usai mendampingi lima sukarelawan Gaza bertemu Presiden Susilo Bambang Yudhoyono di Kantor Presiden di Jakarta, Selasa.

Ia mengucapkan terima kasih pada para sukarelawan karena tanpa upaya mereka kekejaman Israel terhadap rakyat Palestina tidak akan terungkap ke dunia internasional.

Sementara Direktur Perlindungan WNI dan Badan Hukum Indonesia Kementerian Luar Negeri Teguh Wardoyo mengatakan, 12 relawan tersebut tetap mempunyai status kewarganegaraan Indonesia, meski ketika ia berada di Palestina juga mendapatkan perlakuan sama dengan warga lainnya.

Pada Selasa sore, Presiden bertemu dengan lima WNI yang menjadi sukarelawan Gaza. Mereka adalah lima orang pertama yang kembali ke tanah air dari 12 WNI tersebut.

Kelima sukarelawan itu adalah Ketua Komite Indonesia untuk Solidaritas Palestina (Kispa) Ferry Nur, Muhendri Muchtar, Hardjito Warno, Muhammad Yasin, dan Ocvianto Baharuddin. Mereka bagian dari 12 WNI yang turut dalam misi kemanusiaan "Freedom Flotilla" ke Gaza, Mei. Kepulangan tujuh orang lainnya menurut Teguh masih diatur oleh Kementerian Luar Negeri.

Rombongan pembawa bantuan kemanusiaan untuk Gaza itu disergap oleh militer Israel di laut internasional. Insiden itu mengakibatkan sedikitnya sembilan sukarelawan meninggal dunia. Dunia mengecam keras aksi berdarah yang dilakukan Israel pada warga sipil itu.

Sumber: Antara News, Selasa, 8 Juni 2010

Analisis:

Pada kasus pemberian Kewarganegaraan kepada 12 orang relawan kemanusiaan ini, bisa terjadi kehilangan Kewarganegaraan RI apabila yang bersangkutan tidak menolak Kewarganegaraan yang diberikan tersebut, padahal yang bersangkutan memiliki kesempatan untuk itu.

Secara tersirat, 12 orang relawan tidak menolak, yang mungkin terjadi karena ketidaktahuan mereka terhadap hukum Kewarganegaraan RI.

Pernyataan Direktur Perlindungan WNI bahwa 12 relawan tersebut tetap mempunyai status Kewarganegaraan Indonesia, meski ketika berada di Palestina mendapatkan perlakuan sama dengan warga (negara Palestina) lainnya, bisa bermakna pengakuan atas Kewarganegaraan ganda, padahal Undang-Undang Kewarganegaraan RI tidak mengakui Kewarganegaraan Ganda, kecuali untuk anak-anak hasil perkawinan antara WNI dengan WNA, itupun bersifat terbatas hingga anak berusia 18 tahun.

Adapun landasan tentang Kehilangan Kewarganegaraan Republik Indonesia, terdapat pada Pasal 23 sampai 30 Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2006.

Salam Pembebasan,
Eddy Setiawan

Add new comment

Plain text

  • Allowed HTML tags: <a> <em> <strong> <cite> <blockquote> <code> <ul> <ol> <li> <dl> <dt> <dd>
  • Web page addresses and e-mail addresses turn into links automatically.
  • Lines and paragraphs break automatically.
CAPTCHA
This question is for testing whether or not you are a human visitor and to prevent automated spam submissions.
19 + 0 =
Solve this simple math problem and enter the result. E.g. for 1+3, enter 4.

Berita

Tim IKI berkunjung ke LPPM UNISMA
IKI Jajaki Kerjasama dengan UNISMA dan UIN
Bantuan Sosial untuk Masyarakat Rentan
Bansos IKI 2021 untuk Masyarakat Kecil, Lemah, Miskin, Tertindas, dan Difabel
Pemulung di Rawalumbu mendapat Paket Bantuan Jelang Ramadhan
Solidaritas Sosial IKI Jelang Ramadhan
DIskusi Rutin Kewarganegaraan
Tadarus Kewarganegaraan 2021
Duta Perubahan Perilaku Satgas Covid-19
Duta Perubahan Perilaku Satgas Covid-19

Copyright © 2016.Institut Kewarganegaraan Indonesia, Wisma 46, Lantai 14, Ruang 14-16, Kota BNI, Jl Jenderal Sudirman Kav. 1, Jakarta Pusat (10220).