Site Logo

institut kewarganegaraan indonesia

kita satu, kita sama, kita setara, satu tujuan: indonesia

Panti Asuhan MarganingsihLasem, Kabupaten Rembang

Dikirim pada 6 Des 2021 103 dilihat

Panti Asuhan MarganingsihLasem, Kabupaten Rembang
Keterangan: Peneliti IKI di Panti Asuhan MarganingsihLasem, Kabupaten Rembang

 

JAKARTA, IKI

 

Menindaklanjuti Webinar yang diselenggarakan oleh Institut Kewarganegaraan Indonesia (IKI) dan Yayasan Sosial Soegijapranata dengan tema “Penyelesaian Dokumen Kependudukan bagi Anak-anak Panti Asuhan dan Para Oma Opa Panti Wredha, yang diselenggarakan Senin, 15 November 2021. Pengurus IKI bertindak cepat merespon rasa antusias dari para pengurus dan pengasuh panti asuhan dan panti wredha dibawah pembinaan Yayasan Sosial Soegijapranata di daerah Jawa Tengah.

 

Respon cepat IKI adalah untuk menjaga antusias dan semangat para pejuang dan pekerja sosial di lingkungan Yayasan Sosial Soegijapranata agar program mulia ini dapat cepat terlaksana.

Menjawab antusias dan semangat para pejuang dan pekerja sosial, Ketua II Kiai Saifullah Ma’shum dan dua peneliti senior IKI Swandy Sihotang dan Mahendra Kusumaputra untuk segera melakukan kunjungan lapangan dan menggali kendala dan tantangan yang sebenernya terjadi di lapangan dan melihat peluang-peluang yang dapat membantu penyelesaian dokumen kependudukan bagi anak-anak panti asuhan dan opa-oma di panti wredha.

 

Persiapan Tim IKI dengan menginventarisir kontak person tokoh-tokoh sosial masyarakat, termasuk tokoh agama dan penggiat kegiatan sosial di Jawa Tengah. Selain Bruder Konrad sebagai pimpinan dari Yayasan Sosial Soegijapranata, Tim IKI melihat KH. Zaim Ahmad Ma’shum adalah pemuka agama yang tepat untuk diajak bekerjasama dengan IKI.

Beliau adalah cucu dari salah satu pendiri NU, KH. Ma’shum dan pengasuh pondok pesantren Kauman, Lasem, Rembang. Pria yang sangat santun dan akrab dipanggil Gus Zaim, mengasuh pondok pesantren kauman yang berdiri ditengah-tengah lingkungan pecinan, akan dapat memberikan efek yang sangat positif pada kegiatan penyelesaian dokumen kependudukan untuk daerah pesisir jawa tengah.

 

Selain Gus Zaim, Tim IKI juga akan mencoba melakukan kerjasama dengan Drg. Grace W Santoso yang dikenal sebagai pekerja sosial dan penggiat pelestari seni budaya jawa dengan berbagai kegiatan antara lain; Pengurus Yayasan Naluri Budaya sejak 2007, Dewan Pembina Wayang Orang Ngesti Pandowo Semrang Sejak 2009, Ketua II Dewan Kesenian Jawa Tengah Sejak 2012. Selain itu, beliau mendapat penghargaan SheCan Award sebagai Wanita Inspiratif, Penghargaan Women Award, Multitasking MarkPlus, Juli 2010, Penghargaan Bidang Pendidikan dari Pemkot Semarang, 2007 dan sebagai dokter gigi pemegang hak cipta Terapi Gusi.

 

Bruder Konrad dan Drg Grace

Perjalanan 5 jam dan 45 menit dengan kereta api argo mulia membawa Tim IKI dari jakarta sampai kota semarang, tempat Bruder Konrad dan Grg Grace bertempat tinggal. Pertemuan kekeluargaan yang sangat kental dengan semangat sosial yang tinggi, dimana Bruder Konrad dan Drg Grace sudah lama saling mengenal karena keduanya merupakan penggiat sosial di lingkungan gereja dan masyarakat pada umumnya. Drg Grace mengasuh beberapa panti asuhan di beberapa wilayah jawa tengah.

Pembicaraan mengalir dengan lancar bahkan suami Drg Grace, Prof. DR. dr. Hardhono, PAK(K) kenal baik dengan Gus Zaim. Saling keterhubungan dengan jalinan sosial yang baik akan sangat membantu kelancaran program penyelesaian administrasi data kependudukan bagi anak-anak panti asuhan dan opa-oma di panti wreda untuk mendapatkan hak sipil mereka sebagai warga negara Indonesia.

 

Pemilihan lasem sebagai salah satu wilayah pengabdian IKI tidak terlepas dari sejarah pemukim lasem. Lasem, selain dikenal kota santri, juga dikenal sebagai Petit Chinois  atau “Tiongkok kecil” karena merupakan kota awal pendaratan orang Tionghoa di tanah Jawa dan terdapat perkampungan Tionghoa yang sangat banyak tersebar di kota Lasem.Walaupun istilah Petit Chinois banyak menuai kontroversi, namun harus diakui sejarah mencatat lasem (Lao Sam ada yang menyebut La Shen) merupakan tempat berkembangnya para imigran dari Tiongkok terbesar di Pulau Jawa sejak abad ke-14 sampai abad ke 15.

 

Dikutip dari laman kesengsemlasem.com, Julukan Petit Chinois atau Tiongkok Kecil telanjur mendunia. Claudine Salmon dalam Chinese Epigraphic Materials in Indonesia yang terbit pada 1997 menyebut bahwa julukan ini muncul dari para wisatawan yang terpana menyaksikan kota berlanskap bangunan kuno seperti di daerah Fujian selatan.

Julukan itu sah-sah saja karena diberikan oleh para pelancong, kemudian dilegitimasi oleh ilmuwan dan pers.

Datangnya armada besar Laksamana Cheng Ho ke Jawa sebagai duta politik Kaisar China masa Dinasti Ming yang ingin membina hubungan bilateral dengan Majapahit terutama dalam bidang kebudayaan, perdagangan dengan membawa serta peradaban baru. Mereka membawa kesenian, seperti seni tari dan seni batik.

Selain itu secara bersamaan mereka juga melakukan penyebaran agama Islam dan membangun beberapa masjid di lasem. Misi kesenian, kebudayaan dan penyebaran agama Islam yang dilakukan dengan damai membuat mereka memperoleh legitimasi untuk melakukan aktivitas kultural dan kemudian banyak yang tinggal dan menetap di daerah pesisir utara Pulau Jawa.

Sejarah kedatangan dan bermukimnya orang-orang tionghoa ini, sudah tentu membuat banyak keturunan tionghoa bermasalah secara administrasi kependudukan dan status kewarganegaraannya.

Seperti kita maklumi bersama dan diceritakan oleh Gus Zaim bahwa pada masa orde baru keturunan tionghoa mendapat banyak tekanan diskriminasi dari pemerintah orde baru, mulai dari kewajiban mengganti nama dan tidak boleh menunjukan kebudayaan dan kesenian tionghoa bahkan tulisan atau aksara tionghoa dilarang untuk diperlihatkan. Namun secara sosio kultural mereka sudah membaur dengan masyarakat lasem, tambah Gus Zaim.

 

Era Presiden Gus Dur membuka peluang penghapusan diskriminasi dengan mulai melakukan kajian perubahan UU Kewarganegaraan untuk menghapus diskriminasi. Akhirnya lahirnya UU No.12 tahun 2016 yang memberikan jaminan dan kepastian kewarganegaraan bagi seluruh masyarakat Indonesia tanpa membedakan asal-usul dan keturunan seseorang.

Kondisi sosio kultural lasem mendorong IKI untuk mengimplimentasikan UU No.12 tahun 2016 untuk warga lasem baik yang keturunan tionghoa yang pada masa orde baru sempat mengalami diskriminasi administrasi kewarganegaraan dan tekanan politik maupun masyarakat lesem pada umumnya, terlebih masyarakat rentan adminduk termasuk kelompok marginal, anak-anak panti asuhan dan opa oma di panti wredha.

 

Berbekal informasi dari Bruder Konrad dan Drg. Grace, IKI mencari informasi berberadaan panti asuhan marganingsih di lasem. Pencarian mengantarkan IKI ke sebuah rumah tua yang terawat dengan halaman luas, menurut informasi rumah tersebut dibangun pemerintah hindia belanda untuk kesultanan lasem.

 

IKI diterima di ruang tamu sederhana namun tertata rapih. Lantai rumah yang masih asli terbuat dari tegel bermotif terlihat bersih mengkilap pertanda telah melalui perawatan apik lebih dari seratus tahun. Pengasuh panti asuhan marganingsih Sr. Regina dan Sr. Lusia yang beralamat di jalan Raya Pandean No. 105, Sendangsari, Lasem menerangkan bahwa panti asuhan marganingsih mengasuh 35 anak perempuan dan 27 anak lelaki dan 80% berasal dari wilayah NTT- NTB.

 

Dalam pembicaraan lebih lanjut, Sr. Lusia menceritakan bahwa banyak anak-anak panti banyak yang belum mempunyai akta kelahiran, namun karena adanya hubungan baik panti asuhan dan beberapa sekolah swasta maupun negeri, anak-anak panti asuhan masih diijinkan bersekolah walaupun belum memiliki akta kelahiran dengan janji pihak panti asuhan akan melakukan upaya pembuatan akta kelahihan anak-anak tersebut di kantor Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Kabupaten Rembang.

 

Lika-liku dan jalan terjal pengurus panti asuhan untuk mendapatkan akta kelahiran bagi anak-anak asuhnya sudah mereka jalani, namun belum mendapatkan hasil yang maksimal.

Sebagai contoh seorang anak panti asuhan bernama Naomi saat ini berumur 15 tahun, belum mempunyai akta kelahiran namun nama Naomi sudah tercantum dalam Kartu Keluarga (KK) Kabupaten Tegal. Lebih dari 3 tahun pengasuh panti asuhan Marganingsih berusaha menelusuri ke Dukcapil Tegal untuk memindahkan Naomi agar terdaftar di KK panti asuhan Marganingsih Kabupaten Rembang.

 

Dengan hubungan baik yang terjalin antara IKI dan Dukcapil, saat itu juga berhasil ditelusuri bahwa sebenanya KK Naomi bukan terdaftar di Kabupaten Tegal, namun terdaftar di Kabupaten Jepara. Bantuan kecil ini membuat Sr.

Lusia sangat percaya dan menaruh harapan besar pada bantuan IKI untuk proses pembuatan akta kelahiran anak-anak panti asuhan Marganingsih. Pengurus panti asuhan sangat memahami bahwa selembar akta kelahiran dapat diartikan sebagai pintu untuk memasukai kehidupan yang lebih baik bagi anak-anak asuhnya.  (Mahendra Kusumaputra)