Site Logo

institut kewarganegaraan indonesia

kita satu, kita sama, kita setara, satu tujuan: indonesia

IKI Jajagi Kerjasama Advokasi Layanan Adminduk Dengan Berbagai Komunitas di Jawa Tengah

Dikirim pada 29 Nov 2021 182 dilihat

IKI Jajagi Kerjasama Advokasi Layanan Adminduk Dengan Berbagai Komunitas di Jawa Tengah
Keterangan: Laporan Perjalanan Peneliti IKI di Jawa Tengah

 

 

JAKARTA, IKI

Laporan kunjungan kerja IKI

18 – 20 November 2021. Semarang - Lasem

Institut Kewarganegaraan Indonesia (IKI) terus berupaya menjangkau kawasan baru dan komunitas baru dalam mengadvokasi dan memfasilitasi masyarakat marjinal dalam bidang adminstrasi kependudukan  (Adminduk).  

Menindaklanjuti Webinar yang diselenggarakan oleh Institut Kewarganegaraan Indonesia (IKI) dan Yayasan Sosial Soegijapranata dengan tema “Penyelesaian Dokumen Kependudukan bagi Anak-anak Panti Asuhan dan Para Oma Opa Panti Wredha, yang diselenggarakan Senin, 15 November 2021.

Pengurus IKI bertindak cepat merespon rasa antusias dari para pengurus dan pengasuh panti asuhan dan panti wredha dibawah pembinaan Yayasan Sosial Soegijapranata di daerah Jawa Tengah.

 

Respon cepat IKI adalah untuk menjaga antusias dan semangat para pejuang dan pekerja sosial di lingkungan Yayasan Sosial Soegijapranata agar program mulia ini dapat cepat terlaksana.

Menjawab antusias dan semangat para pejuang dan pekerja sosial, IKI menugaskan Ketua II Kyai Saifullah Ma’shum dan dua peneliti senior IKI Swandy Sihotang dan Mahendra Kusumaputra untuk melakukan kunjungan lapangan dan menggali kendala dan tantangan yang sebenernya terjadi di lapangan dan melihat peluang-peluang yang dapat membantu penyelesaian dokumen kependudukan bagi anak-anak panti asuhan dan opa-oma di panti wredha.

 

Persiapan Tim IKI dengan menginventarisir kontak person tokoh-tokoh sosial masyarakat, termasuk tokoh agama dan penggiat kegiatan sosial. Selain Bruder Konrad sebagai pimpinan dari Yayasan Sosial Soegijapranata, Tim IKI melihat KH. Zaim Ahmad Ma’shum adalah pemuka agama yang tetap untuk diajak bekerjasama dengan IKI.

 

Beliau adalah cucu dari salah satu pendiri NU, KH. Ma’shum dan pengasuh pondok pesantren Kauman, Lasem, Rembang.

Pria yang sangat santun dan akrab dipanggil Gus Zaim, mengasuh pondok pesantren kauman yang berdiri ditengah-tengah lingkungan pecinan, akan dapat memberikan efek yang sangat positif pada kegiatan penyelesaian dokumen kependudukan untuk daerah pesisir jawa tengah.

Selain Gus Zaim, Tim IKI juga akan mencoba melakukan kerjasama dengan Drg. Grace W Santoso yang dikenal sebagai pekerja sosial dan penggiat pelestari seni budaya jawa dengan berbagai kegiatan antara lain; Pengurus Yayasan Naluri Budaya sejak 2007, Dewan Pembina Wayang Orang Ngesti Pandowo Semrang Sejak 2009, Ketua II Dewan Kesenian Jawa Tengah Sejak 2012.

 

Selain itu, beliau mendapat penghargaan SheCan Award sebagai Wanita Inspiratif, Penghargaan Women Award, Multitasking MarkPlus, Juli 2010, Penghargaan Bidang Pendidikan dari Pemkot Semarang, 2007 dan sebagai dokter gigi pemegang hak cipta Terapi Gusi.

 

 

Bruder Konrad dan Drg Grace

Perjalanan 5 jam dan 45 menit membawa Tim IKI sampai kota semarang, tempat Bruder Konrad dan Grg Grace bertempat tinggal. Pertemuan kekeluargaan yang sangat kental dengan semangat sosial yang tinggi, dimana Bruder Konrad dan Drg Grace sudah lama kenal karena keduanya merupakan penggiat sosial di lingkungan Gereja Katolik dan masyarakat pada umumnya, Drg Grace mengasuh beberapa panti asuhan di beberapa wilayah Jawa Tengah.

Pembicaraan mengalir dengan lancar bahkan suami Drg Grace, Prof. DR. dr. Hardhono, PAK(K) kenal baik dengan Gus Zaim.

Saling keterhubungan dengan jalinan sosial yang baik akan sangat membantu kelancaran program penyelesaian administrasi data kependudukan bagi anak-anak panti asuhan dan opa-oma di panti wreda untuk mendapatkan hak sipil mereka sebagai warga negara Indonesia.

 

Gus Zaim dan Relawan IKI

Tim IKI berlanjut meneruskan misi, perjalanan darat Semarang-Lasem ditempuh dalam waktu hampir 6 jam dengan kemacetan lalulintas di beberapa tempat yang disebabkan perbaikan jalan maupun banjir.

Setelah istirahat sejenak dan mandi, sekitar pukul 22:00 Tim IKI meluncur ke pesantren kauman untuk bersilahturahmi dengan Gus Zaim dengan mengajak serta beberapa mahasiswa PMII, IPNU dan Ansor.

Pertemuan hangat dua sahabat lama Gus Zaim dan Kiai Saifullah Ma’shum sambil bercerita nostalgia perjuangan bersama, menyatukan semangat untuk penyelesaian dokumen kependudukan bagi anak-anak panti asuhan, opa-oma di panti wredha, warga keturunan tionghoa dan warga pada umumnya yang mungkin masih belum memiliki dokumen kependudukan.

Cerita unik berlanjut, ternyata memang benar bahwa Gus Zaim mengenal baik Prof. DR. dr. Hardhono, PAK(K) bahkan masih ada talian keluarga karena buyut perempuan Gus Zaim ada yang bermarga Oei, sama dengan Prof. Hardhono.

 

Silaturahmi hangat berakhir dengan ijin pamit Tim IKI yang sudah merasakan lelah dan kantuk yang luar biasa, walaupun keinginan silaturahmi masih menggebu tapi mata dan rasa lelah tidak dapat dilawan. Sekitar jam 01:00 Tim IKI meninggalkan pesantren kauman, kembali ke penginapan dengan dikuti oleh mahasiswa PMII, IPNU dan Ansor.

Sampai di penginapan yang berjarak kurang lebih 10 menit dari pesantren kauman, para mahasiswa masih ingin ngobrol dan bertanya tentang program IKI, akhirnya diskusi berlanjut dengan ditemani kopi lelet, kopi khas Lasem.

Alhasil, malam itu Tim IKI sepakat untuk membentuk relawan IKI di Lasem yang akan membantu wilayah Pati dan Kudus, pertemuan dengan calon relawan IKI Lasem berakhir tepat pukul 01:46.

 

 

Panti Asuhan Marganingsih, Lasem.

Pengasuh panti asuhan marganingsih Sr. Regina dan Sr. Lusia dari Panti Asuhan Marganingsih Pati yang beralamat di jalan Raya Pandean No. 105, Sendangsari, Lasem menerangkan bahwa panti asuhan marganingsih mengasuh 35 anak perempuan dan 27 anak lelaki dan 80% berasal dari wilayah NTT- NTB.

 

Dalam pembicaraan awal, Sr. Lusia menceritakan bahwa banyak anak-anak panti belum mempunyai akta kelahiran, namun karena adanya hubungan baik panti asuhan dan beberapa sekolah swasta maupun negeri, anak-anak panti asuhan masih diijinkan bersekolah walaupun belum memiliki akta kelahiran dengan janji pihak panti asuhan akan melakukan upaya pembuatan akta kelahihan anak-anak tersebut di kantor Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Kabupaten Pati.

 

Lika-liku dan jalan terjal pengurus panti asuhan untuk mendapatkan akta kelahiran bagi anak-anak asuhnya sudah mereka jalani, namun belum mendapatkan hasil yang maksimal.

Sebagai contoh seorang anak panti asuhan bernama Naomi saat ini berumur 15 tahun, belum mempunyai akta kelahiran namun nama Naomi sudah tercantum dalam Kartu Keluarga (KK) Kabupaten Tegal.

Lebih dari 3 tahun pengasuh panti asuhan Marganingsih berusaha menelusuri ke Dukcapil Tegal untuk memindahkan Naomi agar terdaftar di KK panti asuhan Marganingsih Kabupaten Pati.

Dengan hubungan baik yang terjalin antara IKI dan Dukcapil, saat itu juga berhasil ditelusuri bahwa sebenanya KK Naomi bukan terdaftar di Kabupaten Tegal, namun terdaftar di Kabupaten Jepara.

Bantuan kecil ini membuat Sr. Lusia sangat percaya dan menaruh harapan besar pada bantuan IKI untuk proses pembuatan akta kelahiran anak-anak panti asuhan Marganingsih.

Pengurus panti asuhan sangat memahami bahwa selembar akta kelahiran dapat diartikan sebagai pintu untuk memasukai kehidupan yang lebih baik bagi anak-anak asuhnya.

 

Masyarakat Adat Samin, Kabupaten Pati

Perjalanan tim IKI juga menjajaki kemungkinan untuk membantu pembuatan akta kelahiran dan kelengkapan dokumen kependudukan masyarakat adat samin di Desa Baturejo, Kecamatan Sukolilo, Kabupaten Pati.

IKI punya pengalaman membantu pembuatan dokumen kependudukan masyarakat adat samin yang bermukim di Kabupaten Blora.

 

Penggalian informasi awal masyarakat adat samin di Pati, dengan mendengarkan keterangan dari Pak Maesa, menurut beliau suku samin di Pati lebih "keras kepala" dibandingkan yang bermukim di kabupaten Blora.

Prinsipnya mereka tidak butuh Adminduk, namaun jika disuruh oleh pemerintah, mereka akan membuat, mereka akan nurut bikin tapi jika dikemudian hari ada kesalahan atau merugikan mereka, itu kesalahan yang menyuruh mereka buat Adminduk, tapi jika nanti hasilnya membuat mereka lebih baik, itu dikarenakan amal baik kehidupan mereka.

 

Menurut keterangan Pak Maesa, dalam KTP masyarakat adat samin kolom agama tercantum (-), mereka ingin ditulis "Adam" sebagai agama/ kepercayaan yang mereka anut sampai saat ini, dalam kolom agama di KTP.

Saat ini, terdapat sekitar 600 keluarga (1.800 jiwa) masyarakat adat samin di kabupaten pati, dengan tingkat pendidkan mencapai 10% bersekolah SD sampai dengan SMA.

 

Ada informasi unik berkaitan dengan masyarakat adat samin di Kabupaten Kudus, mereka menganut kepercayaan bahwa kepala keluarga adalah perempuan, hal ini menjadi kendala untuk pembuatan KK.

Mereka juga menganut sistem perkawinan  dua tahap yang dikenal dengan Paswitan dan Pasaksen. Pada tahap paswitan, pasangan saling menjajaki kecocokannya dengan hidup bersama, jika mereka menganggap cocok, akan dilanjukan ke tahap Pasaksen. 

 

Wisma Lansia Panti Rukmi, Kabupaten Pati

Wisma lansia panti rukmi, merupakan target tim IKI selanjutnya. Pengurus panti rukmi, Sr. Luisa menjelaskan bahwa terdapat 22 lansia berumur antara 70 tahun – 85 tahun dan 75% dari lansia tersebut sudah tidak mampu untuk berjalan.

Selain mengurus panti lansia, Sr. Luisa bersama Bruder mengurus juga panti khusus penderita lepra. Akan sangat bermanfaat jika panti rukmi mempunyai KK panti dengan para lansia menjadi anggota keluarga panti, agar para lansia tersebut dapat didaftarkan menjadi peserta BPJS dengan bantuan iuran dari dinas sosial Kabupaten Pati.

 

Selain menerima lansia yang diantar oleh keluarganya, panti rukmi juga memperhatikan masyakat umum yang terlantar. Pernah juga mendapatkan juru parkir perempuan yang tidak punya tempat tinggal dan beberapa bagian tubuhnya terdapat luka yang sudah penuh dengan belatung. Juru parkir tersebut diajak untuk sementara tinggal di panti sambil menjalani perawatan sampai sembuh.

 

Cerita unik perihal adminduk, bahwa para pengurus dan penghuni panti lansia pernah dianjurkan oleh petugas kecamatan untuk membuat KK masing-masing atas nama mereka sendiri. *** (Mahendra Kusumaputra