Kita Satu, Kita Sama, Kita Setara, Satu Tujuan: Indonesia

Pelajaran dari Masa Silam

Judul buku   : Nusantara, Sejarah Indonesia
Penulis        : Bernard H.M Vlekke
Penerjemah  : Samsudin Berlian
Penerbit       : Gramedia, Jakarta
Tahun          : 2016
Halaman      : xxi + 440 halaman
ISBN           : 978-602-6208-06-04
Peresensi    : Eddy Setiawan    

Indonesia modern yang didirikan 17 Agustus 1945, oleh sebagian pendiri bangsa dianggap sebagai kelanjutan dari masa sebelumnya yakni masa dimana wilayah yang sekarang ditetapkan sebagai wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia masih disebut sebagai Nusantara. Penggunaan kata Nusantara dipopulerkan kembali oleh pendiri Taman Siswa, Ki Hajar Dewantara, yang sebenarnya merujuk pada batas-batas wilayah Majapahit, meskipun tidak sama persis dengan wilayah NKRI saat ini. Dewantara tampaknya sengaja memilih istilah ini, untuk menanamkan di alam bawah sadar para aktivis masa pergerakan nasional, bahwa Indonesia memiliki model persatuan yang khas di masa silam. Oleh karena itulah penggunaan istilah Nusantara menjadi sesuatu yang subversive pada masa penjajahan Belanda.

Vlekke menerbitkan Nusantara pertama kali pada 1943, masa dimana perhatian besar mulai terarah pada kawasan Asia Tenggara karena mulai timbulnya kesadaran bahwa wilayah ini memiliki posisi dan arti penting bagi kepentingan strategis dan ekonomis Amerika Serikat. Karya ini menjadi penting dan relevan hari ini karena Vlekke, sebagaimana para sejarawan pada umumnya, memberikan rangkuman yang menyeluruh dan jauh ke belakang sehingga kita bisa melihat akar fenomena hari ini. Munculnya sentimen terhadap etnis tertentu, menguatnya gerakan Islam politik, kekerasan atas nama agama, meningkatnya semangat anti kebhinekaan adalah siklus panjang yang benih-benihnya telah ditabur jauh sebelum negara ini berdiri.

Nusantara memberikan gambaran utuh mulai dari latar belakang geografis yang mendeskripsikan betapa luas wilayah ini, dan betapa banyak pulau-pulau yang menjadi bagiannya, dan arti penting Pulau Jawa bagi Nusantara secara keseluruhan. Vlekke menegaskan bahwa sebagian besar sejarah kepulauan Indonesia adalah sejarah Jawa, meski Sumatera, khususnya bagian utara dan timur juga memiliki peran penting. (h.5). Vlekke memulai sejarah Indonesia dengan menggunakan teori P dan F Sarasin untuk menjelaskan populasi awal nusantara, yang disebutnya sebagai suku Vedda, imigran awal Nusantara. Suku Vedda adalah ras berkulit gelap dan bertubuh kecil, yang mendiami hampir seluruh Asia Tenggara, dan memiliki benang merah dengan suku bangsa Vedda di Srilanka, Suku Hieng di Kamboja, Senoi di semenanjung Malaya, serta Miao-tse dan Yao-jen di Tiongkok. Suku Vedda ini berdasarkan bukti-bukti antropologis dan arkeologis memiliki hubungan yang erat dengan nenek moyang orang Melanesia dan masih termasuk ras negrito, yang hingga saat ini masih terdapat di Afrika, Asia Selatan, dan Oceania.

Dua ribu tahun setelah suku Vedda, hadirlah dua gelombang imigrasi baru dari wilayah yang sekarang disebut Tiongkok, oleh Sarasin bersaudara disebut sebagai proto dan deutro Melayu. Teori Kern di bidang filologis dan Wilken di bidang etnologis juga digunakan Vlekke untuk melengkapi proses terbentuknya bangsa yang ada di nusantara termasuk kekayaan bahasa di wilayah ini.  Sementara di bidang budaya, masuknya pengaruh Hindu dan Buddha dari India dan juga Tiongkok kemudian memperkaya dan menghasilkan kebudayaan khas nusantara.

Masa kerajaan-kerajaan di Jawa dan Sumatra dikupas dengan berlandaskan pada teori-teori ahli sejarah seperti Krom, Rijklof van Goens, CC Berg, Coedes, dan Stutterheim. Vlekke tampaknya berusaha menjelaskan posisi nusantara sebagai suatu kesatuan yang ketika itu masih absurd, dan menekankan bahwa Indoensia disatukan oleh proses panjang sejarah nusantara, bukan akibat kolonialisme Belanda. Kerajaan-kerajaan di Jawa terbukti memegang peranan paling sentral pada masanya, kecuali kerajaan Sriwijaya di Sumatera, maka pada Bab 3 Vlekke secara khusus mengupas tentang para pendiri imperium di Jawa seperti Singosari, Majapahit, dan Kediri.

Menjelang berakhirnya masa kejayaan imperium di Jawa dan Sumatera, para pedagang muslim dan Portugis mulai hadir untuk mencari rempah dan komoditas lainnya. Pedagang Belanda kemudian menyusul hadir, dengan empat kapal pada 5 Juni 1596 di pantai barat Sumatera. Tahun inilah yang tampaknya digunakan sebagai patokan dalam retorika “350 tahun dijajah”. Masa selanjutnya oleh Vlekke dikategorikan sebagai Indonesia di Zaman Sultan Agung dan Pieterszoon Coen. Dinamika selanjutnya adalah terkait Batavia hingga kemudian runtuhnya kerajaan-kerajaan di nusantara dan menguatnya kekuasaan Belanda dan hadirnya aspek-aspek baru dalam kehidupan di Hindia Belanda.

Diantara para Gubernur Jenderal, Vlekke secara khusus membahas Herman Willem Daendels, seorang bertangan besi yang berhasil menekan korupsi, membangun administrasi, membangun jalan dan benteng dan berbagai hal yang diperlukan. Bahkan Daendels hampir memindahkan pusat kekuasaan dari Batavia ke Surabaya. Selain Daendels, Thomas Stamford Raffles sang pendiri Singapura, dan Johanes Van Den Bosch juga dibahas karena dinilai memiliki peranan penting dalam pembentukan sejarah wilayah nusantara. Proses penyatuan Indonesia dibahas pada Bab 14 yang menurut Vlekke sebagian merupakan jasa kaum liberal, yang menyadari bahwa Belanda telah mendapatkan keuntungan yang sangat besar dari Indonesia sehingga wajar jika Belanda mulai menyediakan dan memfasilitasi pendidikan bagi anak-anak Indonesia.

Vlekke tampaknya termasuk sejarawan yang yakin bahwa ekonomilah yang menggerakkan sejarah manusia, sehingga ia menegaskan bahwa perubahan-peruabahn di Hindia Belanda pada masa politik balas budi tersebut adalah karena meningkatnya harga-harga komoditas asal Indonesia di pasar dunia sehingga akhirnya terjadi upaya peningkatan produksi, dan “kewajiban moral” Belanda atas pendidikan pun meningkat. Kritik Vlekke terhadap sistem diantaranya tidak ada jenjang pendidikan yang lebih tinggi kecuali berpengantar bahasa Belanda, atau pada tingkat universitas harus pergi ke negeri Belanda. Vlekke merangkumnya dengan kata “munafik” karena Belanda menyatakan tidak akan mendirikan universitas jika angka melek huruf masih rendah, padahal jika jumlah penduduk masa tersebut 60 juta, begitu 10% menyelesaikan sekolah dasar, maka jumlah angka melek hurufnya melebih jumlah penduduk Belanda. 

Penutup dari buku ini adalah pemaparan tentang berakhirnya koloni Hindia Belanda dan lahirnya Bangsa Indonesia hingga kemudian wilayah ini memasuki masa perang dan revolusi dengan semakin menguatnya pergerakan nasional Indonesia hingga masa lahirnya partai-partai politik baik yang bersifat nasionali, agama, maupun komunis yang melakukan tekanan-tekanan politik hingga lahirnya tuntutan kaum nasionalis Indonesia pada Kongres Gabungan Politik Indonesia, 31 Januari 1941 dengan tuntutan: pertama, penunjukkan seorang Indonesia sebagai Letnan Gubernur Jenderal, kedua penunjukkan orang-orang Indonesia sebagai Asisten Direktur di Departemen-Departemen pemerintahan, ketiga penunjukkan orang Indonesia untuk duduk di Dewan Hindia, keempat penciptaan “Dewan Perwakilan Rakyat” yang berfungsi sebagai “Parlemen Orang Banyak” sementara “Dewan Rakyat” akan berfungsi sebagai Senat, dan kelima, hak pilih universal aktif dan pasif untuk laki-laki dan perempuan; pemilih buta huruf akan melaksanakan hak pilih mereka melalui para wakil pemilih.

Kehadiran Jepang sebagai kekuatan Asia dan saudara tua Indonesia, menjadi akhir dari masa-masa kekuasaan Belanda terhadap nusantara. Nusantara yang ditulis sebelum Jepang masuk ke Indonesia hanya memberikan gambaran singkat tentang tawaran “kesepakatan ekonomi” dari Jepang kepada pemerintah Hindia Belanda sebelum melancarkan perang, tawaran ini ditolak dan berujung pada jatuhnya Singapura dan selangkah kemudian tentu Jawa.

Add new comment

Plain text

  • Allowed HTML tags: <a> <em> <strong> <cite> <blockquote> <code> <ul> <ol> <li> <dl> <dt> <dd>
  • Web page addresses and e-mail addresses turn into links automatically.
  • Lines and paragraphs break automatically.
CAPTCHA
This question is for testing whether or not you are a human visitor and to prevent automated spam submissions.
1 + 2 =
Solve this simple math problem and enter the result. E.g. for 1+3, enter 4.

Berita

Suasana koordinasi dan pelatihan pemanfaatan fasilitas online untuk para relawan IKI
Ngurus Akta Kelahiran Sambil Ngopi, Bisa ya?
Ketua II IKI Saifullah Mahsum menyampaikan materi pelatihan untuk para relawan.
Pusingnya Relawan Urus KK Suami dengan Lima Istri
Kabid Casip pada Diadukcapil KBB Asterina, SH saat memberikan akta kelahiran yang sudah jadi kepada warga.
Yanling di Cikalong Wetan, Kab. Bandung Barat Disambut Antusias Warga
Relawan IKI melayani warga tangerang di stand pelayanan Disdukcapil pada Festival Cisadane
Ada Layanan Dukcapil di Festival Cisadane
Upgrade Customer Service Disdukcapil Se-Banten

Copyright © 2016.Institut Kewarganegaraan Indonesia, Wisma 46, Lantai 14, Ruang 14-16, Kota BNI, Jl Jenderal Sudirman Kav. 1, Jakarta Pusat (10220).