Kita Satu, Kita Sama, Kita Setara, Satu Tujuan: Indonesia

PEJUANG YANG DIPEREBUTKAN ALRI, ADRI JUGA AURI

Masih ingat saya cerita kong Abdullah seorang bekas anak buah kyai haji Noer Alie ,, ada seorang Tionghoa yang sangat di percaya sang Kyai untuk membetulkan semua barang eletronik yang rusak ... ya telepon.. radio hingga mesin ... rupanya itulah kelebihan para pejuang keturunan Tionghoa.... tak terkecuali Gan Koen Hay atau Heroe Gunadi

Heroe Gunadi lahir Probolinggo Tanggal 1 Januari 1913.Namun dalam perkembangan jiwanya sebagai warga negara Indonesia, ia mempunyai kesadaran bernegara dan kebangsaan Indonesia yang sangat tinggi sama dengan penduduk asli pribumi. Indonesia merupakan tanah airnya, tanah tempat Ia dilahirkan, dibesarkan dan tempat untuk mencari kehidupan. Oleh sebab itu Ia mencintai tanah airnya dengan segenap hati yang terbukti dengan tindakan “Patriotisme” pada masa Perang Kemerdekaan Indonesia.

Pada zaman Belanda, Heroe Gunadi sekolah di “Eurpesche Lagere School (ELS)” tamat tahun 1926, “Meer Uitgebried Lager Onderwijs (MULO)” tahun 1929 dan melanjutkan pendidikan di “Electro Technische School” tahun 1933 dan “ Radio Telegraaf School” tahun 1934. Dengan bekal pengetahuan di bidang elektronika itulah sehingga Ia menjadi ahli elektro yang sangat langka pada masa itu. Pada awal perjuangan kemerdekaan dan zaman revolusi fisik, Heroe Gunadi mencurahkan tenaganya untuk membuat Alat komunikasi radio siaran, telegrap dan teleponi.

Pada awal mulanya Heroe Gunadi bekerja di Radio Republik Indonesia (RRI) di Jakarta tanggal 15 Agustus 1945, dua hari menjelang Proklamasi Kemrdekaan. Heroe Gunadi ditunjuk sebagai Kepala Bengkel Induk Radio merangkap  Kepala Stasiun Pemancar I RRI eks, “BATAVIASCHE RADIO VERENIGING (BRV)” di Jalan Merdeka Selatan No.12, tempat gedung telekomunikasi saat ini. Ketika perhubugan telegrap melalui media kawat terputus, maka solusi pengganti dapat menggunakan saluran Radio. Dengan perantaraan Slamet, Heroe Gunadi diminta oleh Kepala Kantor Pos & Telegrap Besar I Jakarta, Abdurahim Djojodipoero, untuk membangun stasiun radio di Ruang Sentral Telegrap. Heroe Gunadi menyanggupi permintaan itu dan menyelesaikan pembangunan Stasiun Radio PTT dalam waktu relatif singkat.

Stasiun Pemancar yang dipasang di Ruang Sentral Telegrap, terdiri dari 4 pemancar, lengkap dengan studionya masing-masing, yang berkekuatan 40 Watt, 60 Watt, 200 Watt dan 500 Watt sebagai cadangan. Sejak itulah terselenggara hubungan Telegrap Radio dengan Kota Serang, Krawang, Cikampek, Tasikmalaya, Cirebon, Purwokerto, dan Jogjakarta. dan untuk perhubungan telepon radio dapat terselenggara antara Jogjakarta dengan Bukittinggi.

Pada tanggal 23 Oktober 1946 pembukaan telepon radio berkekuatan 200 Watt dengan tanda panggilan (Call sign) YHB-4 oleh R.Dijar selaku Wakil Kepala PTT di Jogjakarta untuk keperluan perjuangan dan TNI. Ketika Presiden Soekarno berpidato di Garut tanggal 5 Nopember 1945 juga menggunakan Pemancar YHB-4 tiga hari terus-menerus untuk keperluan Kementerian Penerangan.

Tanggal 20 Juli 1947 jam 23.00 WIB, Belanda melancarkan Agresi Pertama dengan menyerbu Kantor Pos & Telegrap Besar I Jakarta, sehingga berakhirlah perhubungan telegrap & teleponi dengan beberapa daerah di pedalaman, namun demikian Heroe Gunadi telah menyiapkan Pemancar Radio dengan call sign YKO berkekuatan 200 Watt, frequensi 8370 Kc, yang dapat digunakan untuk perhubungan telegrap & teleponi. Pemancar ini langsung dihubungkan dengan Pemancar YHN-3 Jogjakarta. Ribuan telegram yang masuk antara lain dari Dr. AK. Gani selaku Wakil Perdana Menteri yang berkantor di Pegansaan Timur No. 56 Jakarta.

Berhubung situasi di Jakarta semakin genting, kemudian Jogjakarta juga diserbu Belanda dengan nama Agresi Belanda ke II pada tanggal 19 Desember 1948, perhubungan Pemancar YKO dengan YHN-3 terputus. Operator YKO beralih memanggil operator Pemancar YHN-7 Solo dan diberi jawaban, bahwa Jogjakarta sudah diduduki oleh Belanda dan diperkirakan sore harinya Kota Solo juga akan diduduki, setelah itu Pemancar YHN-7 Solo juga hilang dari udara.

Heroe Gunadi melakukan perubahan Pemancar YKO diubah menjadi Pemancar telefoni, yang dapat menyiarkan komentar dan berita yang menggemparkan seluruh penduduk yang memonitor melalui radio siaran. Pada umumnya orang memperkirakan Pemancar itu ada di lereng gunung di pedalaman Jogjakarta. Namun Pemancar gerilya ini berada di Ibukota Jakarta, tetapi tidak ada yang mengetahui dan siarannya terus-menerus mengudara tanpa menghiraukan lagi bahaya dari sergapan Tentara Belanda.

Untuk pembukaan dan penutupan siaran radio, Oesman Tanzil yang bertugas sebagai pembawa acara, melagukan “ Indonesia Raya “ dengan gitarnya, yang sangat mengetarkan hati para pendengarnya, yang rindu akan Kemerdekaan, sedang komentar atau ulasan berita adalah Hasil Tanzil dan Heroe Gunadi menyusun warta berita.

Dengan hadirnya Pemancar Gerilya YKO buatan Heroe Gunadi, yang mengudara di tengah Kota Jakarta dan sekitarnya, Belanda tidak tinggal diam, Pemancar itu terus-menerus dicarinya dengan menggunakan mobil pengukur radio dari Laboratorium PTT Bandung. Turut serta mencari adalah Van Koetveld dan Willemse dari PTT Jakarta, dibantu beberapa orang dari NEFIS (Dinas Rahasia Belanda). Berhubung mobil pengukur radio hanya satu sehingga tidak dapat “ Kruispeiling” (pengukuran silang), Jika pengukuran silang dilakukan maka Pemancar itu dapat terjaring.

Kendaraan pengukur radio tersebut sudah berada di Jalan Kwitang dan sudah dekat dengan rumah Heroe Gunadi, entah mengapa yang digrebek adalah sebuah toko radio di Gang Tengah milik Gunawan, hasilnya tidak ditemukan, padahal Stasiun  Radio Gerilya YKO itu antenanya berada di atas pohon sedikit terlindung sehingga pihak Belanda tidak melihatnya. Untuk menghidupkan Pemancar YKO menggunakan daya yang dicantol dari tiang listrik.

Ketika YKO digunakan untuk keperluan operasional telegrap, sudah tentu menimbulkan bunyi kerotok-kerotok pada pesawat radio siaran yang ada disekitarnya karena pengaruh induksi ketukan morce. Akibat adanya Pemancar YKO yang dibuat oleh Heroe Gunadi, makin hari Belanda semakin jengkel sehingga para Republikan di Jakarta akan diusir semua ke Jogjakarta, bahkan beberapa pembesar RI di antaranya Wakil Presiden Moh.Hatta dan Menteri Abdoekarim memerintahkan agar Pemancar Radio itu ditutup saja.Sebaliknya Presiden Soekarno mengucapkan terima kasih kepada Team Pemancar YKO, dan mendoakan agar tetap mengudara tanpa ada hambatan.

Perjuangan Kemerdekaan memang menuntut pengorbanan dari bangsa Indonesia, begitu pula Heroe Gunadi dan Keluarganya. Ketika Tentara Sekutu pada awal bulan Oktober 1945 mendarat di Jakarta, suasana mulai bergolak, daerah Kwitang, Kramat dan Senen menjadi ajang pertempuran.pada suatu hari rumah Heroe Gunadi digeledah, justru oleh para pemuda yang tidak bertanggung jawab. Mereka menuduh bahwa Ia mengoperasikan Pemancar gelap. Setelah menemukan apa yang mereka cari, maka Heroe Gunadi menjelaskan bahwa peralatan yang berwarna merah itu bukan pemancar tetapi semacam “Signal Occilator” untuk memperbaiki pesawat penerima, lagi pula pesawat itu milik RRI surat-suratnya lengkap, maka selamatlah pesawat tersebut.

Tidak lama kemudian setiap rumah di daerah Kwitang digeledah oleh serdadu baret merah dari sekutu, Begitu juga rumah Heroe Gunadi, suami istri dan anak-anaknya di suruh keluar rumah, dan dikumpulkan di jalan raya bersama penduduk lainnya. Seorang perwira Belanda berpidato dalam bahasa Indonesia, Ia mengancam akan membakar kampung Kwitang jika terjadi lagi penembakan dari arah Kwitang oleh laskar pemuda.

Ketika Heroe Gunadi mengoperasikan lagi Pemancar YKO, Ny. Heroe Gunadi menjadi resah apalagi sedang hamil, Ia sangat takut, jika rumahnya digeledah dan suaminya ditangkap. Perlu diketahui bahwa Pemancar Gerilya itu ditempatkan oleh Heroe Gunadi di kamar tidurnya sehingga menuntut ketahanan mental termasuk sangat berani.

Kehidupan Heroe Gunadi bersama keluarganya sangat menderita karena setiap saat harus mendukung perjuangan mempertahankan Kemerdekaan yang terlanjur diproklamirkan.Keuangan tidak menentu sehingga anak-anaknya silih berganti sakit, penderitaan fisik mereka sangat menyedihkan karena situasi serba kekurangan, bahkan Heroe Gunadi sendiri sering jatuh pingsan karena kelelahan mengurus tugas sebagai pejuang di bidangnya yang sangat bermanfaat bagi Bangsa Indonesia, namunpun dari keturunan China. Beruntung ada yang memberi informasi kepada dokter Diran dari jalan kebon sirih yang memberi pertolongan dengan cuma-cuma kepada keluarga Heroe Gunadi, setelah dokter Diran mengetahui bahwa Horoe Gunadi adalah penggerak pejuang misi bawah tanah, sedang dokter Diran sendiri adalah Ketua Barisan Pemuda.

Setelah perjuangan sedang memuncak Heroe Gunadi, rencana akan menjual barang-barangnya untuk mengungsikan istrinya  pindah ke tempat krabatnya yang dianggap masih dalam zone aman. Keputusan ini Ia ambil karena telah bulat tekadnya untuk melawan Belanda jika kenekatannya selalu mengudarakan Pemancar Gerilya YKO, tetapi istrinya menolak dengan apapun yang terjadi dalam suasana yang setiap saat mengancam jiwanya bersama suaminya.

Suatu saat Heroe Gunadi membuat statemen dengan perhitungan jika sewaktu-waktu tertangkap oleh Pasukan Belanda dan harus bersiap menjalani hukuman mati, tetapi kenyataannya Ia bersama kelurganya masih diberi umur panjang. Rumah Heroe Gunadi tidak hanya merupakan tempat Pemancar Radio, juga menjadi bengkel elektornik yang menghasilkan perangkat untuk kepentingan perjuangan RI, waktu itu Heroe Gunadi merupakan perintis elektronika karena mempunyai skill yang luar biasa.

Dalam kurun 5 tahun dalam keadaan penuh bahaya, Ia membuat dan menggulung berbagai powertransformator berkekuatan sampai 3000 Volt AC/ 1,5 A, Modulationtransformator berkekuatan 2000 Watt Power Output dan Fillamenttransformator dari 2,5-5 dan 5,5-10 Volt Center Tap, 10 A/20 A. Menggulung powertransformator membutuhkan keahlian khusus.

Prestasi tertinggi Heroe Gunadi adalah pelopor pembuatan 25 Pemancar Radio untuk telegrafi dan 7 untuk telefoni. semua Pemancar itu digunakan untuk RRI, PTT, TNI AD, AURI, ALRI dan berita ANTARA. Pemancar Radio merupakan jalan pintas untuk menyampaikan informasi yang cepat. Kehadirannya memungkinkan terselenggaranya sistim peringatan dini yang dapat mempersatukan kekuatan para pejuang yang bercerai berai menjadi kesatuan yang terkoordinasi. Di samping itu Pemancar radio merupakan alat yang ampuh untuk menangkal propaganda musuh.

Suatu saat Pemancar YKO diubah untuk perhubungan telegrap radio yaitu :

    PD-2 AURI di Aceh
    PQ-1 AURI di Bukittinggi
    NRC Angkatan Darat di Bukit Barisan  (Dr. AK. Gani)
    GUS Angkatan Darat di Jambi
    GUS Angkatan Darat di Lhoksumawe
    GUS Angkatan Darat di Banjarmasin (Kolenel Hassan Basri)
    PA-1 Angkatan Laut di Surabaya
    YER, PMW-2, PMW-3 dan PMW-4 PTT di Jogjakarta.

Sebelum gencatan senjata pada tanggal 28 Juli 1949, Heroe Gunadi masih berhasil membuat Pemancar YEA dengan kekuatan 100 Watt di Gedung Prolakmasi Jalan Pegansaan Timur No. 56 Jakarta atas perintah Letkol Askari untuk perhubungan telegrap dengan Pemancar PTT PMW-2, PMW-3, PMW-4 Jogjakarta. Menjelang gencatan senjata, tempat tinggal Heroe Gunadi dijadikan Markas PHB TNI oleh Letkol Askari, tenaganya ditambah 3 orang dari AURI dan 5 orang dari PTT.

Pada waktu pengakuan kedaulatan RI oleh Belanda tanggal 27 Desember 1949, PHB TNI dan AURI belum memiliki Pemancar Radio di Jakarta, maka kehadiran Pemancar YKO sangat diperlukan. pada tanggal 30 Januari 1950 Heroe Gubadi menulis surat ke Letkol Askari  dengan usulan supaya diadakan pertemuan silaturahim antara pegawai PTT non Kooperator dengan TNI yang selama ini telah menggunakan Pemancar Radio Gerilya YKO, tujuannya untuk berdoa kesyukuran kepada Tuhan Yang Maha Kuasa yang telah memberi perlindungan kepada Pemancar YKO, yang sering dicari oleh Belanda.Hadir waktu itu adalah Letkol Askari dari TNI, Sekjen Kementerian Dalam Negeri Mr. Wongsonegoro, Menteri Keuangan Ir. Soerachman, Penasehat Kementerian Luar Negeri Dr.Darmasetiawan, Kolonel Adam Wakil Komodor Udara, dan Komandan PHB AURI Mayor Boedihardjo.

Pertemuan dibuka oleh Abdurahim Djojodipoero, Kepala Perwakilan PTT di Jakarta. Kemudian sambutan oleh Letkol Askari menguraikan peran Pemancar Gerilya YKO dalam penyampaian perintah dari pucuk Pimpinan Angkatan Darat kepada pasukannya di Sumatera, Jawa, dan Jakarta menjadi jembatan yang penting sekali dalam penyampaian berita. Tanpa Pemancar YKO maka informasi akan terhambat padahal kita dalam suasana peperangan.

Akhirnya setelah pemancar Gerilya itu telah memenuhi misinya untuk perang kemerdekaan dengan gemilang, atas persetujuan Gebernur Militer Jakarta Raya, Kolonel Daan Yahya, maka Pemancar ditutup mengudara tanggal 14 April 1950. Sebelumnya Heroe Gunadi yang merupakan keturunan China mendapat sambutan dan nota terima kasih atas pertolongan, bantuan dan kerja sama yang diberikan oleh misi Pemancar Radio YKO selama perjuangan kemerdekaan.

Kemudian kepada warga yang berada di daerah Kwitang, Heroe Gunadi tak lupa meminta permohonan maaf atas gangguan radio yang disebabkan oleh ketokan morce sampai berbunyi kerotok-kerotok. Pemancar Gerilya YKO pada akhirnya diserahkan kepada Letkol Adkari untuk dimesiumkan.

Kemapuan Heroe Gunadi di bidang elektronika sangat luar biasa, sehingga menarik perhatian beberapa Jawatan, PHB AURI Mayor Boedihardjo meminta agar Heroe Gunadi bekerja di AURI, Letkol Askari pun meminta agar bekerja di Angkatan Darat. namun karena sudah ada keputusan dari Menteri Perhubungan Ir. H. Laoh, Bahwa Heore Gunadi harus bekerja di Jawatan PTT dan dipekerjakan di laboratoriun PTT Bandung. Setelah beberapa bulan bekerja di Laboratorium PTT Bandung, Heroe Gunadi kemudian diperbantukan ke Makassar untuk menentramkan keresahan pegawai. Tidak lama kemudian terjadi peristiwa Pemberontakan Andi Azis pada 5 Agustus 1950, Stasiun Radio Pemancar PTT diduduki, Gedung Studio RRI mengalami kerusakan berat dan isinya dihancurkan.Heroe Gunadi menghadapi peristwa itu tidak panik,karena sudah terbiasa menghadapi tekanan,  kemudian menyiapkan Pemancar PTT agar RRI Makassar bisa siaran kembali.

Setelah perjuangan Heroe Gunadi sekian lama dalam pergolakan Perjuangan Kemerdekaan RI, Heroe Gunadi dipercaya oleh Negara dalam hal ini Jawatan PTT, sebagai Kepala Stasiun Radio PTT Makassar, Kepala Stasiun Radio PTT Manado (1951), Kepala Stasiun Radio PTT Surabaya (1954), Kepala Stasiun Radio Jakarta (1957), Kepala Bagian Transmisi (1963) dan Kepala Daerah Telekomunikasi Wilayah XII Jayapura. Pada tanggal 1 Pebruari 1963 menjalani masa pensiun dari Jawatan PTT.

Suatu karir yang penuh pengabdian kepada tanah airnya telah dilalui Heroe Gunadi dengan penuh suka cita yang mengesankan. Kemampuan di bidang elektronika yang luar biasa dan digunakan untuk mendukung perjuangan Kemerdekaan Indonesia. Keberaniannya yang luar biasa dengan segala risiko mati, pengorbanan dan kesetiaan kepada Bangsa dan Negara Republik Indonesia, merupakan suri teladan yang mempunyai nilai yang lestari yang perlu diikuti oleh generasi penerusnya.

Tanda Penghargaan dalam Perjuangan Kemerdekaan RI

    Bintang Gerilya oleh Menteri Perhubungan RI.
    Satyalencana Peristiwa Perang Kemerdekaan-I
    Satyalencana Peristiwa Perang Kemerdekaan-II
    Satyalencana Perjuangan Kemerdekaan RI

________________

Sumber: http://mandorkawat2009.com/2015/08/12/mengenang-gang-koen-hay-pejuang-ke...

Add new comment

Plain text

  • Allowed HTML tags: <a> <em> <strong> <cite> <blockquote> <code> <ul> <ol> <li> <dl> <dt> <dd>
  • Web page addresses and e-mail addresses turn into links automatically.
  • Lines and paragraphs break automatically.
CAPTCHA
This question is for testing whether or not you are a human visitor and to prevent automated spam submissions.
6 + 2 =
Solve this simple math problem and enter the result. E.g. for 1+3, enter 4.