Kita Satu, Kita Sama, Kita Setara, Satu Tujuan: Indonesia

Mereka yang tidak Diinginkan

Anak-anak pesantren Millinum Sumenep

Tidak semua bayi terlantar yang dibuang orangtuanya bernasib malang.  Salah satunya ialah bayi perempuan yang kemudian diadopsi artis Venna Melinda. Bayi malang itu dulu ditemukan oleh warga di Masjid Syahid Kompleks UIN Syahid Jakarta, sebelum diserahkan ke RS Syahid UIN yang letaknya berdampingan dengan masjid. Di bawah asuhan Venna, bayi yang kini berusia enam tahun itu menjadi gadis mungil dan menjadi kesayangan mantan anggota DPR dari Partai Demokrat itu.

Tapi berapa banyak sih bayi-bayi yang nasibnya seberuntung bayi yang diadopsi Venna Melinda tersebut. Lebih banyak bayi tak berdosa yang mengalami nasib tidak baik.

Banyak pasangan suami-istri yang belum memiliki keturunan berniat mengadopsi bayi-bayi terlantar yang sering ditemukan di berbagai lokasi. Tapi salahkah jika yang bersangkutan mengurungkan niatnya (mengadopsi bayi) ketika menyaksikan kondisi fisik si bayi kurang normal atau mengalami keterbatasan fisik? Ini sikap yang manusiawi dan wajar. Umumnya masyarakat memilih bayi-bayi yang berparas cantik atau ganteng, atau paling tidak tubuhnya normal.

Tapi tidak demikian dengan Ustadz Khairul Shaleh, pengasuh Pesantren Milinial di Kecamatan Candi, Sidoarjo, Jawa Timur ini. Menyaksikan banyaknya bayi tidak normal atau memiliki keterbatasan fisik yang dibuang ibunya, Khairul Shaleh yang akrab dipanggil dengan Gus Mad terusik nuraninya. Ketika orang lain “memalingkan wajahnya” melihat bayi-bayi yang tidak normal, ia justru menjemput, memungut dan memeliharanya.  Lelaki tampan berusia paruh baya dan berperawakan gagah ini sejak tahun 1990-an menjalankan kegiatan mulia ini.

 “Saya hanya menggunakan mata dan suara hati. Kalau menggunakan jalan pikiran akal sehat, orang bakal enggan mengurus bayi-bayi mengenaskan titipan Allah itu,” tuturnya sambil mengarahkan genggaman tangannya ke dada, tempat hati bersemayam.

Sungguh luar biasa yang dilakukan pria beristri tiga ini. Karena makin lama anak-anak yang diasuh makin banyak, pada tahun 1990 Khairul Shaleh merintis pembangunan pesantren yang diberi nama “Pesantren Milinial, Pesantren Yatim Piatu dan Bayi Terlantar”, berlokasi di Desa Tenggulun, Kecamatan Candi, Sidoarjo, Jatim. Bangunan fisik pesantren cukup megah dan seluruh tembok dindingnya dihiasi gambar dengan motif yang bermacam-macam. Pesantren yang berlokasi di Tenggulun difungsikan sebagai asrama dan tempat pengajian, sementara untuk kegiatan belajar mengajar, Gus Mad membangun fasilitas belajar di lokasi lain yang lumayan jauh tapi masih di wilayah kecamatan Candi.   Pembangunan pesantren di dua lokasi ini seluruhnya dibiayai secara mandiri oleh Gus Mad.  

Gus Mad mengungkapkan perasaan dan pandangannya tentang nasib bayi-bayi tak bertuan yang banyak dijumpai di sekeliling kita. Secara tidak langsung lelaki yang bibirnya hampir tak pernah berhenti mengisap batang rokok ini seakan hendak menyampaikan kritik sosial. Mengadopsi bayi terlantar yang merupakan amal terpuji adalah satu hal, sementara kepedulian dan concern terhadap persoalan kemanusiaan yang paling menggetarkan hati (menyaksikan bayi diterlantarkan karena kondisi fisik tidak normal) adalah satu hal yang lain lagi. 

Apakah memang masyarakat ketika mau mengadopsi bayi terlantar itu didasari niat mengentaskan persoalan kemanusiaan, atau sebenarnya sekadar untuk mendapatkan momongan dan kepentingan sosial yang bersangkutan, jika pada akhirnya mereka mengurungkan rencananya ketika yang didapati adalah bayi yang tidak normal atau jelek rupa? Jika masyarakat hanya memilih bayi yang normal, sehat dan berparas tampan atau cantik untuk dipelihara, lantas siapa yang bakal mengurus bayi-bayi yang dilahirkan tidak normal atau mengalami keterbatasan fisik?

Tidak Berdokumen-Kependudukan

Rabu menjelang waktu duhur kemarin, tim dari Institut Kewarganegaraan Indonesia (IKI), Saifullah Ma’shum dan Prasetyadji, didampingi aktivis Srikandi (sebuah lembaga sosial) Surabaya (Wulandari dan Wayan Nara) diterima Gus Mad, yang didampingi ketiga istrinya. Mereka berusia sekitar 30 tahunan, cantik-cantik dan tampak rukun.

“Saya suka perempuan yang berambut panjang dan pandai menari,” tuturnya sambil melirik para istri yang duduk agak di belakang.

Wulandari bercerita ke IKI, istri pertama Gus Mad adalah perempuan Bali yang awalnya beragama Hindu. Rambutnya panjang dan pandai menari. Menurut Gus Mad, istri yang pandai menari itu termasuk istri yang salehah. Koq demikian?

“Ketika suami capek, atau sedang marah, atau sedang dirudung banyak masalah, istri menari di depan suami, akhirnya hatinya meleleh. Ini istri yang salehah,” ujarnya sambil tertawa. Karena sesuatu hal perkawinan dengan istri pertama berujung dengan perceraian.

Berdasarkan cerita teman-teman Srikandi, ketiga perempuan yang kini menjadi istri Gus Mad dipersunting atas permintaan pihak perempuan. Mereka yang datang minta untuk dijadikan istri.

Selama lebih satu jam Gus Mad menjelaskan pandangan dan prinsip hidupnya sehingga ia mengambil peran yang jarang diminati orang.

Kehadiran Tim IKI bertujuan membantu pengurusan akta kelahiran para santri. Berdasarkan laporan dari Srikandi, dari 200 santri yang kini menghuni asrama, hampir semuanya tidak memiliki akta kelahiran. Akibatnya anak didik Pesantren Milinial tidak bisa mendapatkan akses bantuan program dari Pemerintah. Menurut penuturan Ustadz Asep yang mendampingi Gus Mad, sudah lama pihak pesantren mengurus dokumen kependudukan ke Kantor Desa dan ke Dinas Dukcapil Kabupaten Sidoarjo. Tapi hasilnya nihil.

Khofifah Indar Parawansa semasa menjabat Mensos pernah mengunjungi pesantren ini, dan berjanji untuk membantu pengurusan akta kelahiran para santri. Tapi sampai detik ini tidak ada follow up nya. Keberadaan pesantren yang dihuni anak-anak terlantar, anak yang dibuang ibunya karena hasil hubungan gelap, atau dibuang karena kondisi fisiknya tidak normal, memang sedikit menyimpan misteri. Pihak Pemda, termasuk aparat Desa Tenggulun, terkesan mengambil jarak dengan pimpinan pesantren.

Warga sekitar juga tampak kurang care dengan keberadaan pesantren ini. Berhembus rumor bahwa sang pengasuh mengeksploitasi anak-anak terlantar untuk kepentingan dan tujuan tertentu. "Tidak sepeser pun ada bantuan uang dari Pemerintah untuk membangun pesantren dan membiayai kebutuhan operasional santri," ujar Gus Mad, menepis tudingan miring pihak luar.

Melihat status dan kondisi penghuni pesantren yang sebagian besar adalah anak-anak yatim dan anak yang diterlantarkan oleh orangtuanya, semestinya hak-hak konstitusional mereka tetap bisa dipenuhi. Kasusnya persis dengan anak-anak yang diasuh di Panti Asuhan Abhimata di Tangerang Selatan. Semula tak satu pun anak-nak yang menjadi binaan Abhimata itu memiliki dokumen kependudukan. Sama dengan nasib anak-anak yang berada di Pesantren Milinial, mereka adalah anak-anak yang tidak jelas asal-usulnya dan diterlantarkan ibunya. Dengan difasilitasi oleh IKI akhirnya kini semua anak-anak penghuni panti memiliki akta kelahiran.

“Kalau di di Tangsel bisa, kenapa di sini (Sidoarjo, pen.) tidak bisa?” tutur peneliti utama IKI, Prasetyadji.

Ketika IKI menyampaikan rencana membantu pengurusan akta kelahiran anak-anak di sini, Gus Mad menyambut positif tetapi tampak tidak terlalu berharap. Raut mukanya datar, sembari berkata, “Kuncinya itu sebenarnya ada di Bupati, Pak. Kalau pejabat-pejabat di Dinas Dukcapil saya tidak terlalu berharap.” Rupanya sudah terlampau sering pengasuh pesantren mengurus akta kelahiran anak asuhnya, tetapi gagal. Pengasuh Pesantren Milinial nyaris hopeless.

Demontrasi Hafalan Qur’an

Lima anak usia SD, satu laki dan empat perempuan, duduk berjejer di hadapan rombongan IKI. Anak-anak yang mengenakan seragam putih hijau itu fisiknya, maaf, agak kurang normal.  Sebagian besar anak-anak itu cebol (stunting), dan beraut muka kurang sempurna. Baju yang dikenakan sangat kusut dan lusuh. Mereka memanggil sang pengasuh dengan panggilan ayah.

Oleh Gus Mad, anak-anak tadi diminta bacakan ayat al-Qur’an secara bersama. Bagaikan koor, dengan fasihnya kelima anak itu mengikuti perintah ‘ayahnya’. Mereka membacakan beberapa ayat dalam surat Maryam dengan lancar, dengan irama yang kekinian. Usai membaca secara bersama, Gus Mad meminta satu persatu anak membacanya secara bergiliran. Dengan isyarat ketukan tangan di meja, satu persatu anak-anak itu bergantian membaca al-Qur’an.

Usai kelima anak membaca ayat, sang ayah bertanya kepada anak-anak yang dijawab dengan serempak.

“Anak-anak, siapa yang melahirkanmu?” yang dijawab “Ayah!”

“Siapa yang menyusuimu?”

“Ayah!”

“Siapa yang mendidikmu?”

“Ayah!”

“Siapa yang mencari makan untuk kamu?”

“Ayah!”

“Siapa yang menemanimu sepanjang waktu?”

“Ayah!”

Usai mendegar jawaban anak-anak itu, Gus Mad, dengan ekspresi serius, mengalihkan pandangan ke rombongan IKI sambil berkata, “Coba Jenengan pirsani (saksikan, pen) sendiri, sampai seperti itu anak-anak itu. Mereka merasa tidak ada seorang ibu yang melahirkan dan menyusukan dan memelihara. Mereka hanya tahunya ayah, ayah, ayah,” ujarnya. (IKI/SM)

_______________________

Penulis: Oleh Saifullah Ma’shum (Sumenep, 14 November 2019)

 

Add new comment

Plain text

  • Allowed HTML tags: <a> <em> <strong> <cite> <blockquote> <code> <ul> <ol> <li> <dl> <dt> <dd>
  • Web page addresses and e-mail addresses turn into links automatically.
  • Lines and paragraphs break automatically.
CAPTCHA
This question is for testing whether or not you are a human visitor and to prevent automated spam submissions.
5 + 5 =
Solve this simple math problem and enter the result. E.g. for 1+3, enter 4.

Berita

Begini Cara Kerja Mesin Anjungan Dukcapil Mandiri
Saatnya Disdukcapil di Daerah Menyediakan Anjungan Dukcapil Mandiri
IKI dan DISDUKCAPIL Yanling di SOSPAM Kota Cilegon
Kasatpel Capil Kel. Pegangsaan didampingi Staf IKI mendampingi Bunari & Wagiyem dalam pengurusan dokumen kependudukannya.
Perjalanan Terjal Wagiyem Berburu Dokumen Kependudukan
Muhaimin: TKI Wajib Memiliki Akta Kelahiran

Copyright © 2016.Institut Kewarganegaraan Indonesia, Wisma 46, Lantai 14, Ruang 14-16, Kota BNI, Jl Jenderal Sudirman Kav. 1, Jakarta Pusat (10220).