Kita Satu, Kita Sama, Kita Setara, Satu Tujuan: Indonesia

Banyak Penduduk WNI Lahir pada 31 Desember dan 1 Juli, Ini Faktanya!

Beberapa waktu yang lalu ada isu yang disebarkan oleh tim sukses calon presiden nomor urut 02 (BPN) terkait adanya temuan banyaknya warga dengan tanggal lahir yang sama, yakni tercatat pada 31 Desember dan 1 Juli. Temuan ini lalu dijadikan isu seolah-olah telah terjadi kekacauan atau kesalahan data kependudukan. Bahkan berkembang menjadi prasangka buruk terhadap Ditjen Dukcapil Kemendagri seolah-olah sengaja memanipulasi data kependudukan.

Tetapi yang sebenarnya terjadi adalah kesalah-pahaman dan kekurang-mengertian dari tim sukses (BPN) tersebut. Bagi sistem pendataan administrasi kependudukan fakta temuan itu bukanlah hal baru dan memang demikian adanya. Itu bukanlah kekeliruan pencatatan atau suatu kesengajaan adanya upaya memanipulasi data penduduk.

"Kebijakan tentang tanggal lahir 31 Desember dan 1 Juli sudah berlangsung lama sejak Kemendagri menggunakan Simduk (Sistem Informasi Manajemen Kependudukan)," kata Dirjen Dukcapil Kemendagri Zudan Arif kepada wartawan, Senin (11/3/2019).

Zudan mengatakan kebijakan tentang tanggal lahir 1 Juli dan 31 Desember merupakan kebijakan lama. Dalam kebijakan Simduk sebelumnya, semua penduduk yang lupa tanggal kelahirannya akan ditulis lahir pada 31 Desember.

Memang faktanya sebagian masyarakat kita, terutama masyarakat tradisional dan adat ada yang tidak terlalu mempedulikan soal perekaman atau pencatatan tanggal, bulan dan tahun lahirnya. Anda bisa cek di lingkungan masyarakat adat di suku Sasak di Lombok, misalnya. Banyak mayarkat suku Sasak di masa lampau (lahir di sekitar tahun 1980an atau 70an dan tahun-tahun sebelumya) yang tidak mempunyai memori atau catatan hari lahir.

Selain itu faktanya banyak pula penduduk lansia di negeri ini yang masih belum memiliki Akta Kelahiran. Di saat yang sama, akibat tak memiliki catatan dari orang tuanya dan karena kepikunan, mereka sudah tidak mengingat lagi kapan mereka dilahirkan. Untuk kasus-kasus semacam itu maka dibuatlah suatu kebijakan sesuai aturan simduk sebelum tahun 2004, semua penduduk yang lupa atau tidak tahu tanggal lahirnya ditulis 31 Desember.

Kebijakan pun berubah ketika berlaku Sistem Informasi Administrasi Kependudukan (SIAK). Warga yang tidak ingat tanggal lahir akan dicatat lahir pada 1 Juli.

"Sejak berlaku SIAK tahun 2004, penduduk yang lupa atau tidak ingat tanggal lahirnya ditulis 1 Juli. Bila tidak ingat tanggal tapi ingat bulannya, maka ditulis tanggal 15," imbuh Zudan.

Kebijakan di atas kemudian diperkuat dengan Permendagri 19 Tahun 2010 tentang Formulir dan Buku Yang Digunakan Dalam Pendaftaran Penduduk dan Pencatatan Sipil.

Demikian Penjelasan ini semoga masyarakat menjadi paham dan tidak menyebarkan informasi yang menyesatkan. Apabila ada hal-hal yang kurang paham terkait persoalan administrasi kependudukan maka sebaiknya menanyakan langsung ke Direktorat Jenderal Kependudukan dan Pencatatan Sipil. (IKI/Editor)

Add new comment

Plain text

  • Allowed HTML tags: <a> <em> <strong> <cite> <blockquote> <code> <ul> <ol> <li> <dl> <dt> <dd>
  • Web page addresses and e-mail addresses turn into links automatically.
  • Lines and paragraphs break automatically.
CAPTCHA
This question is for testing whether or not you are a human visitor and to prevent automated spam submissions.
10 + 1 =
Solve this simple math problem and enter the result. E.g. for 1+3, enter 4.